Diamond QQ - Uji Coba Pembelajaran Sekolah Tatap Muka di Jakarta. ©2021 Liputan6.com/Faizal Fanani
Puluhan ribu madrasah telah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas sejak Senin, 30 Agustus 2021.
Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Kementerian Agama (Kemenag), M Ishom Yusqi menyebutkan bahwa ada 19.910 madrasah yang menggelar PTM terbatas. Angka ini mewakili 23 persen dari total jumlah madrasah di Indonesia.
“Rincian RA 5.179 madrasah, MI 6.013 madrasah, MTs 5.417 madrasah, dan MA 3.301 madrasah yang hampir tersebar penyelenggaraan PTM pada seluruh provinsi,” kata Ishom dalam keterangannya, Rabu (1/9/2021).
Kendala yang dihadapi di PTM terbatas
Ishom menyebutkan penyediaan infrastruktur sanitasi menjadi salah satu kendala yang dihadapi madrasah dalam menerapkan PTM terbatas di masa pandemi. Menurut dia, dalam menangani masalah ini, Kementerian Agama telah membuat program bantuan pembangunan MCK dan fasilitas cuci tangan di sejumlah madrasah.
Selain itu, Kemenag juga terus menggenjot program vaksinasi bagi siswa usia 12-17 tahun untuk siswa, guru, dan pendidik. Ishom mengatakan, vaksinasi ini dilakukan dengan berkoordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan.
“Upaya ini dilakukan melalui koordinasi Kanwil/Kankemenag Kab/ Kota dengan Dinas Kesehatan setempat sesuai kesepakatan bersama Menteri Agama, Mendikbud, Menteri Kesehatan, dan Menteri Menteri Dalam Negeri,” kata Ishom.
PTM terbatas dihentikan selama tiga hari jika ada pelajar yang terpapar COVID-19
Sebelumnya, Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 telah mengingatkan guru dan siswa untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan selama uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di sekolah.
Juru Bicara Satuan Tugas Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, jika ada siswa yang terpapar virus corona, sekolah akan diliburkan selama tiga hari.
“Jika nanti ditemukan adanya siswa yang terinfeksi COVID-19, kegiatan PTM di sekolah tersebut akan dihentikan selama tiga hari,” kata Wiku dalam konferensi pers virtual, Selasa (31/8/2021).
Ada 3,3 persen siswa yang menolak divaksinasi
Dalam kesempatan itu, Wiku menanggapi hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terkait vaksinasi untuk pelajar usia 12-17 tahun. Hasil survei menyebutkan 88,2 persen siswa bersedia menerima vaksinasi, 8,5 persen ragu-ragu, dan 3,3 persen menolak.
Meski masih ada yang menolak, Wiku tidak menjelaskan upaya apa yang akan dilakukan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 ke depan.
“Hasil survei tersebut menunjukkan mayoritas peserta didik memiliki kesadaran dan kemauan untuk berpartisipasi dalam program vaksinasi nasional,” ujarnya.
Wiku mengatakan, per 31 Agustus 2021, ada 1,7 juta anak berusia 12-17 tahun yang telah menerima vaksin COVID-19. Kemudian, jumlah tenaga pendidik yang mendapatkan vaksin tersebut sebanyak 1,9 juta orang.
“Ini upaya pemerintah memastikan perlindungan maksimal dalam PTM terbatas,” katanya.

0 Comments